Curhat seorang anak………….

Beberapa hari yang lalu, aku mempunyai ide cemerlang untuk membuat sebuah collage dari foto-foto anggota keluargaku. Collage pertama yang aku buat isinya foto mama, aku dan adikku dan sekarang foto itu bertengger dengan manis sebagai cover pictures di halaman FB dan twitterku, juga diberi kehormatan menjadi wallpaper di layar laptopku.

Ketika memandang hasil akhir collage itu, aku cukup merasa puas. Tapi tetap saja ada yang mengganjal di hatiku, yaitu tidak ada foto papa. Bukan, aku masih punya papa kok, papa masih hidup hanya saja sudah beberapa tahun ini sudah lama berpisah. Terakhir bertemu rasanya sih sewaktu adikku baru berusia 2 atau 3 tahun. Dan sekarang adikku yang waktu itu masih anak kecil imut imut sekarang adalah seorang remaja usia 18 tahun yang baru saja lulus SMA. Do the math, he’s been absent for 15 years, give or take.

Dan seolah takdir hendak bermain-main dengan kami, beberapa hari kemudian, papa menelpon kami, setelah lama tidak terdengar kabarnya. Saat tidak sengaja mengangkat telpon dan mendengar suaranya, hatiku rasanya miris sekali. Di ujung telpon ini, seorang sosok yang sangat aku rindukan semasa aku tumbuh sedang berbicara. Sosok yang sangat aku rindukan di kala aku menginjak usia puber, menjadi remaja dengan segala problematika-nya. Setiap kali aku bertamu ke rumah teman-temanku, aku melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan ayah mereka, aku selalu iri, walaupun temanku mengeluh bahwa ayahnya galak tapi toh tetap saja aku iri dengan mereka. Kenapa aku iri? Karena mereka masih punya papa, sedangkan aku? Aku punya papa tapi seperti tidak punya papa.

Beberapa temanku juga ada yang papanya kerja di tempat yang jauh, tapi toh masih berhubungan via telpon, sedangkan aku tidak pernah berhubungan lagi. Aku bahkan iri dengan temanku yang ayahnya sudah meninggal, aneh bukan? Tentunya rasa iri ini aku rahasiakan karena bisa menyakiti hati temanku yag telah kehilangan ayahnya, tapi toh tidak bisa aku pungkiri bahwa aku iri dengannya, karena walaupun ia sudah tidak memiliki ayah, tapi setidaknya status mereka jelas, ketika ditanya orang lain, mereka cukup menjawab bahwa ayah mereka sudah meninggal.

Sedangkan semasa aku tumbuh besar, setiap kali ada pertanyaan mengenai papaku, aku harus menjelaskan panjang lebar mengapa papa tidak ada bersama kami. Ya, papaku itu bukan WNI, dia adalah WNA asal Malaysia yang dulu bekerja di perusahaan kayu di Kalimantan di era kejayaan industri kayu di tahun  80-an. Dan ketika lapangan pekerjaan mulai sulit, dia kembali ke negaranya, Malaysia dan tidak pernah kembali lagi.

Bagiku, mama adalah sosok seorang mama  dan papa sekaligus, dia harus merawat aku dan adikku dan juga menegakkan disiplin bagi dua orang anaknya yang nakal-nakal (ya, aku akui aku termasuk anak bandel yang susah dibilangin). Dan seiring waktu, aku akhirnya memutuskan bahwa jawaban yang ‘samar’ jauh lebih praktis. Sehingga ketika ada yang menanyaiku dimana ayahku, aku cukup menjawab “Papa sudah lama tidak ada”. Biarlah orang-orang membuat asumsi mereka masing-masing.

Lima belas tahun berlalu, aku masih ingat wajah papa, tapi suaranya sudah samar-samar di ingatanku, sehingga aku sulit mengenali suara papa saat mengangkat telpon dari papa. Namun toh, ketika aku mendengar pertanyaan dari papa ketika aku menanyakan siapa yang menelpon, kata-kata papa nyaris membuatku hampir menangis. Papa bertanya “Kamu sudah lupa sama kamu punnya bapak?” Jujur sekali kata-kata itu sungguh hendak aku balas dengan kata-kata yang pastinya menyakitkan hati, karena jauh di lubuk hatiku sudah lama aku tidak mempunyai papa. Ketika aku berpikir tentang keluarga, aku tidak pernah lagi memikirkan ataupun mengingat tentang papa, bukankah itu sebuah pertanda jelas bahwa bagiku, sosok seorang papa itu tidak ada lagi?

Karena sepanjang ingatanku, yang ada hanyalah sosok mama. Mama yang mengambil raportku, mama yang menyiapkan pesta ulang tahunku, mama yang merawat ketika aku sakit, mama yang menyiapkan makanan yang akan dibawa ke pesta akhir tahun, mama yang membelikanku baju, mama yang menyuruhku belajar, mama yang mengantar  dan menjemputku ke sekolah, tempat les, gereja, rumah teman, dan kemana mana, mama juga yang mengajariku mengendarai sepeda motor. Papa adalah sosok yang hanya eksis di kala liburan dan itu pun karena mama membawaku menemui papa yang bekerja di camp.

Papa bahkan tidak pernah hadir di saat ulang tahunku, mungkin saat aku masih bayi, papa ada di saat ulang tahunku, namun di ingatan masa kanak-kanakku, papa tidak pernah ada di saat aku merayakan ulang tahun. Sementara banyak orang lain hadir di pesta ulang tahunku, teman mama, tetangga, namun papaku sendiri tidak pernah hadir. Jadi salahkah aku ketika aku tidak merasa memiliki papa?

Sudah cukup bagiku rasanya melihat setiap hari mamaku berjuang membesarkan aku dan adikku sendirian. Sementara teman-temannya memiliki seorang suami, mamaku hanya sendirian, bukan seorang istri tapi bukan juga seorang janda. Sungguh miris rasanya, karena andaikan mamaku mau, sebenarnya bisa saja ia mencari suami lain, namun toh tidak pernah dilakoninya.

Dan hatiku juga semakin sakit ketika mamaku menjelaskan kepada papa kenapa aku tidak mengenali suaranya, seolah olah aku ini seorang anak yang baru saja ditinggal papanya dan tidak mengenali suara sang papa di telpon. Tapi setelah lima belas tahun, kurasa wajar saja kalau aku tidak bisa mengenali suara papa.

Mendengar suara papa, harus kuakui, ada rasa rindu namun rasa rindu itu nyaris dikalahkan dengan rasa marah dan benci. Marah dan benci karena papa tidak pernah ada untuk kami, dan karena telah lama berpisah. Maka beberapa kali papa menelpon, aku hanya berbicara dengannya saat aku tidak sengaja mengangkat telpon dari papa, sisanya kubiarkan saja mama berbicara dengan papa. Bahkan adikku saja saat ditawari untuk bicara dengan papa menolak dengan tegas, bukan karena marah atau benci sepertiku, namun lebih karena ia memang tidak pernah mengingat sosok papa, sehingga ia hanya bertanya balik kepada mama “Untuk apa ngomong sama papa? Apa juga yang mau diomongin? Rasanya aneh ngomong sama papa”. Dan adikku pun ikut mengungsi di kamar sementara mama bicara dengan papa di luar.

Karena penasaran, aku coba cek HP mama, dan kulihat cara mama menyimpan nomor papa, makin memperjelas jarak yang terbentang selama lima belas tahun. Mama menyimpan nomor papa dengan nama “Pak Leong”, nama papa Leong Peng Kong, dan biasa dipanggil A Kong (ini adalah salah satu memori masa kecil yang masih ada). Wajarkah bila seorang istri menyimpan nomor suaminya seperti itu? Ketika papa menyatakan niatnya untuk datang, mama langsung menolak dan mengatakan bahwa papa cuma perlu datang saat aku ataupun adikku menikah.

Aku pun berpikir, perlukah jarak yang sudah terbentang lima belas tahun ini diperbaiki? Mencoba membangun keluarga lagi di saat kami sudah hidup damai dan tentram, tiba tiba papa datang dan mengubah segala nya? Berdosa kah aku karena pikiranku? Karena aku berpikir jelek tentang papa? Karena aku berpikir papa tidak ada pun tidak apa-apa? Karena jujur saja, saat ini memikirkan papa kembali ke keluarga ini rasanya hanya menyisakan sakit hati dan rasa tidak  nyaman, karena sudah lima belas tahun tidak bersama, tiba-tiba papa kembali ke dalam kehidupan kami walaupun hanya via telpon, rasanya sungguh tidak nyaman.

Papa bukanlah topik populer di rumah ini, aku bahkan menghindari bertanya tentang papa dan masih melakukannya sampai sekarang. Karena rasanya aku tidak menghargai mama bila aku menunjukkan ketertarikan terhadap informasi tentang papa. Rasanya aku seolah olah tidak menghargai mama dan perjuangannya seorang diri sampai sekarang. Seolah-olah aku sedang berkhianat terhadap mama bila aku menginginkan papaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s