Mission Trip @ Loksado 19-22 Juli 2012-day one

IMG_0371

Seluruh peserta mission trip & para jemaat saat perpisahan di desa pertama

Ini adalah sebuah posting yang tertunda laaamaaaaaa sekali, gimana ga lama, kejadiannya itu bulan Juli tahun lalu, tapi baru sekarang aku punya waktu untuk menulis kisah ini ke blogku. Saking lamanya, ketika aku mau menulis tentang kejadian ini, aku musti ingat-ingat dulu kemarin mission trip ini tanggal berapa ya Untung dulu sempat aku post beberapa foto di FB ku, lengkap dengan tanggalnya, jadi akhirnya inilah kisahnya.

Jadi, pada tanggal 19-22 Juli tahun lalu, aku berkesempatan untuk ikut Mission trip ke area yang cukup terpencil di daerahku, yaitu Loksado. Mission trip kali ini dilaksanakan dengan bantuan team gabungan dari Amerika dan dari Indonesia. Seorang pendeta asal Indonesia yang sudah lama tinggal di Amerika dari Gereja Injili Indonesia adalah pencetus mission trip kali ini. Pdt Stephen Hosea dan istri serta beberapa jemaat gerejanya ikut ambil bagian di acara mission trip yang terdiri dari pengobatan gratis dan KKR ini. Memang di daerah terpencil seperti Loksado ini akses terhadap pengobatan pasti sangatlah susah. Bahkan dalam perjalanan saja ngeliat puskesmas ataupun posyandu aja jarang banget, maklum lah, lokasinya di tengah hutan sih.

Awalnya sempet skeptis, kira kira bisa ga ya ikut acara mission trip ini, soalnya saat itu bukan momen liburan jadi harus minta cuti dan ga nanggung-nanggung, aku harus cuti 3 hari. Skeptis dan lumayan pesimis lah, maklum waktu itu  aku kan baru lima bulan megang posisi aku saat itu, dan jujur aja masih dalam proses penyesuaian dan lain-lain. Maka pada akhirnya, semuanya aku serahkan kepada Tuhan, aku bergumul setiap hari dan berdoa meminta bantuan-Nya agar ijin cuti bisa mulus. Deket-deket harinya, mamaku yang juga bakal ikut mission trip ini nanya ke aku bakal ikut atau enggak, karena harus segera kasih konfirmasi biar bisa dihitungin logistiknya, padahal aku belum sempet ngomong ke boss soal cuti. Aku minta waktu ke mama dan janji bakal kasih konfirmasi hari Rabu, tapi entah apa yang merasukiku,  hari itu juga tiba-tiba aku bicara dengan si boss dan minta cuti, padahal awalnya ga niat ngomongin cuti lo hari itu, but somehow I just talk about it. Habis aku ngomong soal minta cuti, mulai deh si boss gelagat-gelagat ga enak mau nolak permohonan cutiku, pasang tampang memelas dikit dan tahu-tahu aku dapat cuti! Wuih seneng banget, aku langsung mengucap syukur ga henti-hentinya sama Tuhan, begitu keluar dari ruangan boss langkah kakiku langsung ringan dan hari itu juga aku kasih konfirmasi ke mama kalau aku bisa ikutan mission trip nya. Penyertaan Tuhan selalu menyertaiku di setiap langkah yang kuambil.

Jadi, sambil menunggu hari H, aku jauh-jauh hari udah bilang ke teamku bahwa aku bakal pergi tanggal sekian sampai tanggal sekian, dan sebisa mungkin kalau emang bisa dihubungi, aku pasti balas sms dan telpon mereka, tapi aku juga menekankan kalau mungkin aku ga terlalu bisa dihubungi karena bakal ke daerah terpencil. Sudah terbayang di pikiranku kalau si boss pasti bakal telpon terus, dan aku juga sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi telpon dan sms dari si boss. Semua pekerjaanku kuselesaikan supaya aku bisa pergi dengan hati yang ‘agak’ tenang.

Pada hari H-nya, aku dan mama siap-siap, mama kebagian tugas nyetir, jadi kami berangkat dari rumah dengan mobil sewaan dan seabrek bawaan, sejumlah konsumsi, dan ada beberapa donasi dari teman-teman. Mamaku di setiap acara selalu kebagian jatah sebagai driver atau juru konsumsi, hanya saja  kali ini cuma kebagian jatah sebagai driver saja, untuk konsumsi sudah di-handle sama jemaat di gereja di tujuan. Jadi yang kami bawa hanya konsumsi untuk di jalan saja karena perjalanan ke Loksado bakalan jauh dan lama, kira-kira 5-6 jam dengan mobil, tapi sebelum jalan kami harus menjemput rombongan mission trip di airport dulu. Berhubung di Loksado malamnya pasti dingin, pada asyik bawa kain buat selimut, yang dibawa pun cuma kaos dan celana saja, serta celana pendek buat main-main di sungai, Loksado kan terkenal dengan sungai dan jeramnya, pokoknya kalau ke Loksado kalau ga main di sungai itu belum lengkap deh rasanya.

Ada sedikit insiden di pagi hari keberangkatan, HP-ku kecemplung di kamar mandi, aishhh, padahal itu nomor yang justru bakal dihubungi semua orang lagi, ga habis akal aku cari sebuah toples kecil dan kantong silica gel, HP aku telanjangin dan taroh di dalam toples, masukin silica gel, trus tutup rapat, niat awalnya HP bakal dibiarin di toples beberapa jam trus ntar di lokasi tujuan bakalan aku buka dan pasang lagi, jadi awalnya HP itu mau aku bawa, sayangnya gara-gara sibuk ini dan itu, pada akhirnya HP ku malah ketinggalan dan cuma kebawa Iphone yang aku pasang kartu 3. Sekedar info aja, Iphone itu aku pake cuma buat main game, dengerin musik dan foto-foto. Sedangkan HP yang untuk dihubungi itu aku pake HP satunya yang pake OS Android dan menggunakan kartu simpati. Bossku juga ga pernah mau nelpon ke kartu lain selain telkomsel karena masalah tarif, plus ga semua orang tahu no ku yang 3, jadi akhirnya aku kebawa HP yang ga kepake. Bener aja, sesampainya di tempat tujuan, aku satu-satunya yang ga dapat sinyal hampir sepanjang acara. Yang pada pake provider lain masih bisa sesekali nemu sinyal. Aku? Boro-boro, pasrah dah. Kayanya ini memang Kehendak Tuhan supaya aku bisa menikmati waktu waktu yang kuhabiskan di Loksado.

Pada waktu kami akhirnya bertemu dengan rombongan di airport, kami langsung berkenalan dengan satu sama lain(Pak Pendeta Hosea dan Istri, Pak Budi dan Bu Tania, Pak  Cendra, Pak Santo, Alvyn dan Yossi, Pak David dan Bu Shasa, Nana dan terakhir Bu Lusi serta ada dua Ibu-Ibu dari Yayasan Domba Kecil yang aku lupa namanya), sambil mikir-mikir kuatir karena kami kayanya salah perhitungan mengenai mobil yang bakal kami gunakan, padahal sengaja kami sewa mobil innova yang gede biar bisa muat semuanya, tapi ternyata mereka semua bawa barang yang cukup banyak dan besar-besar, maka akhirnya kami memutuskan untuk sewa satu mobil lagi di bandara. Dan karena anggota yang ada waktu itu semuanya pas sebagai supir sebuah mobil (kecuali aku dan 2 orang cewe lainnya tapi mereka berdua mobilnya emang untuk bawa barang dari awal). pada akhirnya, aku kebagian di mobil baru bareng orang-orang yang aku ga kenal sama sekali, untungnya yang akhirnya ikut di mobilku adalah pasangan suami istri, Pak David dan Bu Luisa(Shasa) yang dulu pernah tinggal di Amerika, tapi mereka sangat humble dan sangat curious tentang Banjarmasin, jadi walaupun ga tahu terlalu banyak, akhirnya aku jadi guide dan kasih tahu beberapa fakta yang aku tahu tentang hal-hal yang mereka tanyakan. Awalnya tegang karena mereka orang asing, tapi lama-lama rileks juga karena mereka berdua very down to earth dan easy going, no stress lah berinteraksi sama mereka.

Foto-foto di atas sungai sama anak-anak-very memorable

Foto-foto di atas sungai sama anak-anak-very memorable

Cuaca cukup tidak bersahabat ni beg

itu kami masuk ke area pegunungan, hujan lebat tiba -tiba dan tahu-tahu mulai cerah, tapi semakin jauh kami masuk ke area pegunungan, hujan gerimis yang agak lebat menyambut kami. Kami juga sempat terpisah dari beberapa mobil, dan sempat berpikir kalau kami ini sudah tersesat, karena yang tahu jalan cuma mama, sedangkan mama juga agak-agak ragu dengan jalannya, maka 3 mobil nyaris saja kesasar, padahal waktu itu sudah termasuk ke area yang tidak ada sinyalnya, tapi ternyata kami ga jadi kesasar. Tiba di gereja tujuan, kami pun langsung turun dari mobil dan nurunin sebagian barang sementara sebagian lagi akan diletakkan di TK yang letaknya kira-kira 300 meter dari gereja dimana kami akan menginap malam itu dan juga merupakan venue pengobatan gratis keesokan harinya.

Kira kira sejam setelah kami sampai, barang-barang sudah diturunkan dan disiapkan, team mission trip terbagi menjadi tiga, sebagian ikut seminar hamba Tuhan, sebagian berlatih drama boneka, dan sebagian ikut seminar guru sekolah minggu. Sisanya seperti aku dan yang lain lain ngalor ngidul ga karuan. Mama, karena dulu pernah berkunjung dan udah kenal dengan istri pendeta disana, akhirnya kumpul kumpul sama ibu ibu di sana sambil bantu-bantu masak. Aku dan Ce Yuli kenalan sama anak-anak disana dan akhirnya kami diajak ke sungai di seberang gereja, Awalnya Pak David ikut juga sambil menenteng kameranya buat foto-foto, tapi lama lama akhirnya Pak David balik ke tempat acara, rupanya Pak David ini ditunjuk menjadi juru foto alias seksi dokumentasi untuk mission trip kali ini.

Kami pun bermain-main di sungai dan asyik foto foto. Airnya dingiiin sekali, sejuk dan arusnya lumayan kenceng, takut juga kalau bakalan hanyut walaupun sungainya dangkal. Sayang kami kurang persiapan, karena emang belum sempat ngapa ngapain makanya terjun ke sungai nya masih pada pake celana panjang, terpaksa deh gulung celana, hehehe. Tapi gapapa lah, seru kok. Karena acara cebur cebur ke sungai ini pula aku dan Ce Yuli bisa lebih  akrab lagi dengan anak anak di desa ini. tapi emang pada dasarnya mereka mereka ini semuanya supel, ceria dan cepat akrab dengan orang lain kok. polos polos banget deh, bener-bener suatu kenangan indah rasanya.

Bapak fotografernya pengen mejeng juga tuh

Bapak fotografernya pengen mejeng juga tuh

Foto-foto dulu di jembatan sebelum terjun ke sungai
Foto-foto dulu di jembatan sebelum terjun ke sungai

Foto-foto jalan terus-di bawah jembatan gantung

Foto-foto jalan terus-di bawah jembatan gantung

Ini subjeknya bukan dua cewe di foto tapi pemandangannya
Ini subjeknya bukan dua cewe di foto tapi pemandangannya

Si bapak fotografer ngancem bakal lempar HP kami kalo ga difoto, hehehe

Si bapak fotografer ngancem bakal lempar HP kami kalo ga difoto, hehehe

Karena abis ujan jadi airnya keruh

Karena abis ujan jadi airnya keruh

IMG_0352 IMG_0353

Narsisss abiezzz

Karena haripun sudah sore, kami mengajak anak-anak pulang dari sungai supaya mandi dan siap-siap, tidak lupa kami mengajak anak-anak untuk hadir malamnya di gereja karena akan ada kebaktian dan KKR untuk mereka, sekalian acara ramah tamah supaya team mission trip bisa semakin mengenal semua jemaat. Beberapa anak protes karena disuruh pulang dan mandi, tapi mereka semua setuju untuk melakukan permintaan kami, sementara itu, aku dan Ce Yuli balik ke gedung TK untuk siap-siap mandi. Fasilitas di sini cukup memadai walaupun kamar mandinya terletak di luar tapi sangat bersih dan memadai, airnya pun bersih, air gunung asli looo. Sejuuuk. Selesai mandi, kami kembali ke pastori dimana acara malam akan diadakan, dan sesampainya kami disana, jamuan makan malam yang disiapkan oleh para ibu-ibu sudah siap menanti kami. Menunya sederhana saja, ikan bakar dan gangan belamak, tapi rasanya enak………..

Jamuan makan malam-sederhana tapi enak

Jamuan makan malam-sederhana tapi enak

Alat yang dipakai untuk memanggang ikan

Alat yang dipakai untuk memanggang ikan

Disini, suasana kekeluargaannya terasa sekali, semua jemaat datang dengan penampilan terbaik mereka dan kami semua makan bersama dengan seluruh jemaat. Kondisi disini jadi mengingatkanku akan cerita di alkitab mengenai jemaat mula mula, dimana pada awalnya semua jemaat itu berkumpul bersama dan saling berbagi. Hal seperti ini sudah jarang sekali bisa ditemukan digereja-gereja, makanya aku sangat menikmati suasana di sini. Kekeluargan dan keakrabannya sangat terasa.

Seusai makan malam, dilanjutkan dengan kebaktian, dan juga pemutaran film yang diangkat dari kisah nyata seorang misionaris di tanah Papua yang berjudul Child Of Peace. Ketika kebaktian sudah selesai, kira-kira sudah jam 9 malam, tapi suasana sangat sunyi sepi dan gelap, tidak ada lampu jalan, hanya ada lampu rumah-rumah penduduk, itupun sangat jarang karena rumah rumah penduduk di sini letaknya berjauhan. Kami berbincang-bincang dengan para jemaat sebelum pulang kembali ke gedung TK dimana kami akan menginap malam itu.

Beberapa diantar menggunakan mobil karena jarak cukup jauh dan suasana jalan sangat gelap gulita, tapi karena tidak semuanya muat di mobil, maka harus giliran, dan sementara itu mama mengajak untuk berjalan kaki ke gedung TK, Memang sih, cahaya bulan cukup membantu penerangan, akhirnya beberapa dari kami memutuskan untuk jalan kaki ke gedung TK. Aku sih tidak terlalu takut jalan malam-malam gelap begitu, aku hanya kuatir kalau bertemu dengan ular. Ya, emang aku sangat sangat benci sama hewan yang namanya ular. Dulu bahkan kalau habis lihat ular di TV bisa sampai kebawa mimpi, makanya aku ga percaya sama takhayul yang bilang kalau ngimpiin ular tandanya jodohnya udah dekat, ada juga yang bilang kalau digigit sama ular berarti mau dilamar, karena seumur-umur di dalam mimpi kalau lihat ular aku pasti lari ngibrit. Sekarang pas aku sudah  gedean, kadang aku malah bisa balik ngebantai tu ular. Pernah mama temenku ngomelin aku, katanya aku ngusir jodohku makanya sampai sekarang ga ada pacar. Dalam hati langsung mikir, kalau cuma mimpi digigit ular dapat pacar mah udah dari dulu aku punya pacar, wong dulu dulu aku sering digigit ular kok dalam mimpi, hehehe.

Back to the journey, jalan kaki sampai ke gedung TK bener-bener menjadi sebuah quality time dengan mamaku, sepanjang jalan kami bercerita dan ngobrol, bahkan mungkin selama mission trip ini kami lebih banyak berbincang-bincang dibandingkan ketika kami di rumah, bisa dibayangkan, aku pulang malam dan sudah dalam kondisi capek, kadang aku pulang mama sudah tidur, tidak hanya dengan mamaku saja, tapi dengan adikku pun begitu. Makanya kalau hari minggu datang, aku selalu manfaatkan sebaik-baiknya, untuk istirahat dan menghabiskan waktu bersama keluargaku.

Oh ya, walaupun gelap, tapi salah satu dari anggota mission trip yang juga memutuskan untuk jalan kaki bawa senter loh, jadi perjalanan kami tidak sepenuhnya bergantung pada cahaya bulan. Sesampainya di gedung TK, kami langsung cuci muka dan ganti baju, siap-siap tidur, kagok juga sih, biasanya tidur paling cepet jam 10-11, ini baru jam segitu udah mau tidur. Mau gimana lagi, ga ada kerjaan lagi sih. Para bapak-bapak memutuskan untuk kumpul-kumpul di teras TK sambil berbincang-bincang, entah sampai jam berapa, kami para cewek-cewek juga berbincang-bincang tapi di dalam kamar, Oh ya, ga semuanya tidur di TK malam itu, ada 7 orang yang memutuskan untuk tidur di hotel. Kalau dipikir-pikir sih, bener juga, kalau mereka ga tidur di hotel, tempatnya pasti ga cukup untuk kami semua. Malam semakin larut dan satu persatu kami mulai tertidur sambil diiringi suara percakapan para bapak-bapak yang berlanjut entah sampai jam berapa.

to be continued…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s